Laman

Rabu, 18 April 2012

makkiyah dan madaniyah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagaimana yang kita ketahui, Rasulullah SAW menghabiskan sebagian hidupnya di Mekkah, baik sebelum diutus menjadi Rasul maupun sesudahnya. Kemudian beliau hijrah ke Madinah, menetap disana sampai wafat.
Oleh sebab itu, ayat-ayat Al-quran tidak hanya turun di Mekkah, melainkan juga ditempat-tempat dimana nabi singgah. Dalam hal ini, para ulama’ berupaya mengetahui kapan dan dimana ayat turun, karena pengetahuan tentang hal-hal tersebut mempunyai banyak manfaat untuk memahami kandungan Al-quran dan penyempurnaan pengertian-pengertiannya serta ketinggian petunjuknya.
Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang pengertian dari tempat turunnya ayat-ayat Al-quran tersebut, yang biasa dikenal dengan istilah Makkiyah dan Madaniyah, cara membedakannya, klasifikasinya, serta manfaat mempelajarinya.

B.     Rumusan Masalah
1.         Apakah Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah?
2.         Bagaimanakah Cara-cara mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah?
3.         Bagaimanakah Klasifikasi Surat-Surat Makkiyah dan Madaniyah?
4.         Apakah Manfaat dari Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah
Yang di maksud dengan ilmu makki dan madaniyah adalah ilmu yang membahas ihwal bagian al-qur’an yang makki dan bagian yang madani, baik dari segi arti dan maknanya, cara-cara mengetahuinya, atau tanda masing-masingnya, maupun macam-macamnya. Sedangkan yang di maksud dengan makki dan madani ialah bagian-bagian kitab suci al-qur’an, dimana ada sebagiannya termasuk makki dan ada yang termasuk madan. Tetapi dalam memberikan kriteria bagian mana yang termasuk makki dan mana yang termasuk madani itu, atau di dalam mendefinisikan masing-masingnya, ada beberapa teori yang berbeda-beda, karena perbedaan orientasi yang menjadi dasar tinjauan masing-masing.[1]
Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makkiyah dan madaniyyah. Keempat perspektif tersebut ialah masa turun (mulahadhatu zamaanin nuzul), tempat turun (mulaahadhatu makaani nuzul), objek pembicaraan (mulaahadhatu mukhaathabiina fi nuzul), dan tema pembicaraan (maudhu’un nuzul).
Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut :
المكى : ما نزل قبل الهجرة وان كان بغير مكة. والمدنى : ما نزل بعد الهجرة وان كان بغير مدينة.
فما نزل بعد الهجرة ولو بمكة او عرفة مدنى.
Artinya:
Makkiyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyah walaupun turun di Mekkah atau di Arafah.
Kelebihannnya: menurut para mufassir teori ini dianggap yang paling benar, sebab rumusannya mencakup seluruh ayat al-Quran sehingga dapat dijadikan batasan/definisi.
Kelemahannya: seringkali menyebabkan kejanggalan, sebab ayat yang nyata-nyata turun di Makkah dianggap Madaniyah hanya karena turunnya sesudah hijrah.

Dari perspektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut:
ما نزل بمكة وما جاورها كمني وعرفة وحديبية. والمدنى : مانزل بالمدينة وما جاورها كاحد وقباء وسلع
Artinya:
Makkiyah ialah ayat-ayat yang turun di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan hudaibiyah, sedangkan Madaniyah ialah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti uhud, quba’, dan sul’a.
Kelebihan teori ini: hasil rumusan pengertian Makki dan Madani jelas dan tegas.
Kelemahannya: tidak semua ayat turun di kedua tempat tersebut.

Dari perspetif objek pembicaraan, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut:
المكى : ما كان خطابا لاهل مكة. والمدنى : ما كان خطابا لاهل المدينة.
Artinya:
Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Mekkah. Sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Madaniyah.[2]
Kelebihan teori ini: rumusannya lebih mudah dimengerti, sebab dengan memakai kriteria khitab lebih cepat dikenal.
Kelemahannya: pengertiannya tidak dapat dijadikan batasan/definisi karena tidak bisa mencakup seluruh ayat al-Quran. Kriterianya juga tidak dapat berlaku secara menyeluruh, ada ayat yang dimulai yaa ayyuhalladhina aamanu tapi yang dimaksud Makkiyah. Begitu pula ada ayat yang dimulai dengan yaa ayyuhannaasu, tapi yang dimaksud Madaniyah.

Sedangkan dari perspektif tema turun, kedua terminologi di atas dapat didefinisikan sebagai berikut:
·         Sebagian besar surat Makiyah bertemakan pengokohan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya berkaitan dengan tauhid uluhiyah dan penetapan iman kepada Hari Kebangkitan karena kebanyakan yang diajak bicara mengingkari hal itu.
·         Sedangkan sebagian besar ayat Madaniyah berisi perincian ibadah-ibadah dan mu’amalah karena keadaan manusia waktu itu jiwanya telah kokoh dengan tauhid dan aqidah yang benar, sehingga membutuhkan perincian tentang berbagai ibadah dan mu’amalah.
·         Dalam ayat Madaniyah banyak disebutkan tentang jihad, hukum-hukumnya dan keadaan orang-orang munafiq karena keadaan yang menuntut demikian dimana pada masa tersebut telah disyari’atkan jihad dan mulai bermunculan orang-orang munafiq. Berbeda dengan isi ayat Makiyah.
Kelebihannya: kriterianya jelas dan mudah dipahami.
Kelemahannya: penentuan Makkiyah dan Madaniyah menurut teori ini tidak praktis, sebab harus mempelajari kandungan ayat kemudian baru bisa mengetahui kriterianya.[3]

B.     Cara-Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah
Dalam menetapkan mana ayat-ayat al-qur’an yang termasuk kategori makkiyah dan madaniyah, para sarjana muslim berpegang teguh pada dua perangkat pendekatan:
1.      Pendekatan Transmisi (periwayatan)
Dengan perangkat pendekatan transmisi, para sarjana muslim merujuk kepada riwayat-riwayat valid yang berasal dari para sahabat, yaitu orang-orang yang besar kemungkinan menyaksikan turunnya wahyu, atau para generasi tabi’in yang saling berjumpa dan mendengar langsung dari para sahabat tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan proses kewahyuan al-qur’an, termasuk di dalamnya adalah informasi kronologis al-qur’an.
Dalam kitab al-intishar, Abu Bakar bin Al-Baqilani lebih lanjut menjelaskan: “pengetahuan tentang makkiyah dan madaniyyah hanya bisa di lacak pada otorita sahabat dan tabi’in saja”. Informasi itu tidak ada yang datang dari Rasulullah karena memang ilmunya tentang itu bukan merupakan kewajiban umat’.
Dalam riwayat lain di sebut bahwa Ibn Abbas berkata, ketika di tanya oleh Ubbay bin Ka’ab mengenai ayat yang di turunkan di Madinah, ‘terdapat dua puluh surat yang di turunkan di Madinah, sedangkan jumlah surat sisanya di makkah”.
2.      Pendekatan analogi (Qiyas)
Para sarjana muslim berpendapat bahwa bila dalam surat makkiyah, terdapat sebuah ayat yang memiliki ciri-ciri khusus madaniyah, ayat ini termasuk madaniyyah. Tentu sajapara ulama’ telah menetapkan tema-tema sentral yang di tetapkan ulama’ sebagai ciri-ciri khusus bagi kedua klasifikasi itu.[4]
Dari keterangan para sahabat nabi dan tabi’in, dapatlah di ketahui tanda-tanda dari surat-surat makiyah dan madaniyyah, diantaranya:
1.      Tanda-tanda surah makkiyah:
a.       Di mulai dengan nida’(panggilan): “يا ايها الناس“ dan sebangsanya, dan tidak ada ayat yang di mulai dengan “يا ايها الذين“ , kecuali dalam surat al-hajja:22
b.      Di dalamnya terdapat lafadz “kalla”
c.       Di dalamnya terdapat ayat-ayat sajdah
d.      Di permulaan terdapat huruf-huruf tahjji(huruf yang terpotong-potong)
e.       Di dalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat-umat terdahulu, selain surat Al-Baqarah Al-Maidah
f.       Di dalamnya berisi cerita-cerita terhadap kemusyrikan dan penyembahan-penyembahan terhadap selain Allah SWT
g.      Di dalamnya berisi keterangan-keterangan adat kebiasaan orang-orang kafir dan orang musyirik yang suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan sebagainya
h.      Di dalamnya berisi penjelasan dengan bukti-bukti dan argumentasi dari alam ciptaan Allah SWT yang dapat menyadarkan orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah dan percaya kepada Rasul dan kitab-kitab suci, hari kiamat, dan sebagainya
i.        Berisi ajaran prinsip-prinsip akhlak yang mulia dan pranata sosial yang tinggi
j.        Berisi nasihat-nasihat petunjuk dan ibarat-ibarat dari balik cerita
k.      Kebanyakan surat/ayat-ayatnya pendek-pendek, karena menggunakan iijaaz(singkat-padat).
2.      Tanda-tanda surat Madaniyah
a.       Mengandung ketentuan-ketentuan/hukum-hukum faraid(waris-mewaris) dan had
b.      Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik, kecuali surat Al-Ankabut(29)
c.       Mengandung uraian tentang perdebatan dengan ahli kitabin
d.      Berisi hukum-hukum ibadah, seperti; sholat, zakat, haji, dan sebagainya
e.       Berisi hukum-hukum mu’amalah, seperti; jual-beli, gadai, utang-piutang, dan sebagainya
f.       Berisi hukum-hukum munakahat, seperti; nikah, talak, dan sebagainya
g.      Berisi hukum-hukum kemasyarakatan, kenegaraan, seperti; permusyawaratan, kedisiplinan, pergaulan, pendidikan, dan sebagainya
h.      Kebanyakan surat/ayat-ayatnya panjang-panjang,sebab di tujukan kepada penduduk Madinah yang orang-orangnya banyak yang kurang terpelajar, sehingga perlu dengan ungkapan yang luas agar jelas.[5]

C.    Klasifikasi Surat-Surat Makkiyah dan Madaniyah
Terdapat berbagai pendapat dari para ahli dalam menetapkan surat-surat makkiyah maupun surat-surat madaniyah. Perselisihan pendapat ini pada dasarnya disebabkan oleh berbagai asumsi dari para ulama’ itu sendiri. Sebagian ulama berpendapat bahwa jumlah surat Makkiyah ada 85 surat, sedangkan yang madaniyah ada 28 (Muhammad ibn Nu’man ibn Basyir dalam Fihrist). [6] Ada pula yang berpendapat bahwa jumlah surat Makkiyah ada 86 surat, sedangkan surat Madaniyah ada 28 surat (Al-Quran edisi standar Mesir/ Kronologi Mesir).[7]
Sedangkan Ibnu al-Hashshar berpendapat bahwa surat Makkiyah ada 82 surat, surat Madaniyah ada 20 Surat, sedangkan 12 surat lainnya diperselisihkan. Berikut akan kami paparkan sebagian perinciannya:
Surat Madaniyah
1.      Al-Baqarah                 11.  Al-Hujurat           
2.      Ali Imran                     12.  Al-Hadid
3.      An-Nisa’                      13.  Al-Mujadalah
4.      Al-Ma’idah                  14.  Al-Hasyar
5.      Al-Anfal                       15.  Al-Mumtahanah
6.      At-Taubat                    16.  Al-Jum’ah
7.      An-Nur                        17.  Al-Munafiqin
8.      Al-Ahzab                     18.  At-Thalaq
9.      Muhammad                 19.  At-Tahrim
10.  Al-Fath                        20.  An-Nashr

Surat yang Diperselisihkan
1.      Al-Fatihah                   7.   Al-Qadar
2.      Ar-Rad                                    8.   Al-Bayyinah
3.      Ar-Rahman                 9.   Az-Zilzalah
4.      Ash-Shaf                      10.Al-Ikhlash
5.      At-Taghabun               11.Al-Falaq
6.      At-Tathfif                     12.An-Nas[8]

Perbedaan pendapat para ulama’ tersebut dikarenakan macam-macam status surat Makkiyah dan Madaniyah itu sendiri. Maka, surat Alquran itu terbagi menjadi empat macam, antara lain:
1.      Surat-Surat Makkiyah Murni
Ialah Surat-Surat Makkiyah yang seluruh ayatnya juga berstatus Makkiyah. Jumlah surat-surat ini adalah 58 surat,  yang berisi 2.074 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Al-Fatihah, Yunus, Ar-Ra’du, Al-Anbiya, Al-Mu’minun, An-Naml, Shaad, Fathir, dan surat-surat pendek pada juz 30 (kecuali surat An-Nashr).
2.      Surat-Surat Madaniyah Murni
Ialah Surat-Surat Madaniyah yang seluruh ayatnya juga berstatus Madaniyah. Jumlah surat-surat ini adalah 18 surat,  yang berisi 737 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Ali Imran, An-Nisa, An-Nur, Al-Ahzab, Al-Hujurat, Al-Mumtahanah, Az-Zalzalah, dan sebagainya.
3.      Surat-Surat Makkiyah yang Berisi Ayat Madaniyah
Ialah Surat-Surat Madaniyah yang sebetulnya kebanyakan ayatnya adalah Makkiyah, sehingga berstatus Makkiyah, tetapi didalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Madaniyah. Jumlah surat-surat ini adalah 32 surat,  yang berisi 2699 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Al-An’am, Al-A’raf, Hud, Yusuf, Ibrahim, Al-Furqan, Az-Zumar, Asy-Syura, Al-Waqi’ah, dan sebagainya.
4.      Surat-Surat Madaniyah yang Berisi Ayat Makkiyah
Ialah Surat-Surat yang kebanyakan ayatnya berstatus Madaniyah. Jumlah surat-surat ini adalah 6 surat,  yang berisi 726 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Al-Baqarah, Al-MAidah, Al-Anfal, At-Taubah, Al-Hajju, dan surat Muhammad atau surat Al-Qital.[9]

D.    Manfaat Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
1.      Mengetahui ayat-ayat yang dinasikh (dihapus atau diganti) maupun yang menasakhkannya.
Dengan mengetahui ayat nasikh mansukh, kita dapat memastikan kejelasan dari suatu hukum yang diterangkan oleh 2 ayat yang saling bertentangan. Oleh sebab itu, haruslah diperjelas mana ayat yang turun terlebih dahulu (Makkiyah), sehingga mungkin ayat itulah yang dihapus atau diganti hukumnya dengan ayat yang turun kemudian (Madaniyah).
2.      Membantu dalam menafsirkan al-Quran.
Dengan mengetahui tempat turunnya suatu ayat, kita dapat memahami ayat tersebut sesuai dengan konteks dan arti yang ada, serta isyarat-isyarat yang dikemukakan.
3.      Mengetahui sejarah pembentukan hukum/ sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam (tarikh at-tasyri’) serta hikmahnya (hikmatul tasyri’).
Dengan ilmu Makky dan Madani, tarikh tasyri’ yang sangat bijaksana dalam penetapan peraturan-peraturan Islam secara bertahap, dapat diketahui dan dipahami, mengapa suatu hukum dapat disyariatkan secara demikian. Kita juga bisa memahami hikmah dari syariat tersebut.
4.      Pemanfaatan terhadap gaya bahasa al-quran dalam mengajak kepada jalan Allah SWT.
Surat Makkiyah ditujukan kepada orang-orang kafir Quraisy, yang banyak pakar ahli bahasa Arabnya memakai gaya bahasa singkat-padat, sedangkan surat Madaniyah ditujukan kepada penduduk Madinah yang heterogen, banyak orang asing yang belum mengenal bahasa Arab, menggunakan ungkapan panjang-lebar agar mudah dipahami.
5.      Mengetengahkan sejarah Nabi dengan cara mengikuti jejak beliau di Mekkah maupun di Madinah, serta sikap-sikap beliau dalam berdakwah yang dapat dijadikan acuan bagi para da’i.
6.      Menjelaskan tugas dan perhatian kaum muslimin terhadap al-quran, sehingga mereka selalu merasa haus akan ilmu Islami.[10]


















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.    Pengertian makkiyah dan madaniyyah secara perspektif para sarjana muslim, terbagi menjadi 4 perspektif. Diantaranya adalah masa turun (mulahadhatu zamaanin nuzul), tempat turun (mulaahadhatu makaani nuzul), objek pembicaraan (mulaahadhatu mukhaathabiina fi nuzul), dan tema pembicaraan (maudhu’un nuzul).
2.    Cara nengetahui makkiyah dan madaniyyah ada 2 cara, yakni dengan melakukan pendekatan transmisi (periwayatan) dan pendekatan analogi (Qiyas). Adapun tanda-tanda surat makkiyah kurang lebih ada 11, sedangkan tanda-tanda surat madaniyyah ada 8.
3.    Terdapat berbagai klasifikasi surat makkiyah dan surat madaniyyah, diantaranya ada 4 macam, yakni surat-surat makkiyah murni, surat-surat madaniyah murni, surat-surat makkiyah yang berisi ayat madaniyah, dan  surat-surat madaniyah yang berisi ayat makkiyah.
4.    Manfaat yang dapat dipetik dari mempelajari dan mengetahui makkiyah dan madaniyyah, antara lain adalah mengetahui ayat-ayat yang dinasikh (dihapus atau diganti) maupun yang menasakhkannya, membantu dalam menafsirkan al-Quran, mengetahui sejarah pembentukan hukum/ sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam (tarikh at-tasyri’) serta hikmahnya (hikmatul tasyri’), pemanfaatan terhadap gaya bahasa al-quran dalam mengajak kepada jalan Allah SWT, mengetengahkan sejarah Nabi dengan cara mengikuti jejak beliau di Mekkah maupun di Madinah, serta sikap-sikap beliau dalam berdakwah yang dapat dijadikan acuan bagi para da’i, dan juga menjelaskan tugas dan perhatian kaum muslimin terhadap al-quran, sehingga mereka selalu merasa haus akan ilmu Islami.



DAFTAR PUSTAKA

Djalal, Abdul . 2009. Ulumul Quran. Surabaya: Dunia Ilmu
Anwar, Rosihon. 2008. ULUM AL-QURAN. Bandung: CV. PUSTAKA SETIA
Amal, Taufik Adnan. 2005. Rekonstruksi Sejarah Al-Quran. Jakarta: Pustaka Alvabet
Abdurrahman, Fahd Bin. 1999. Ulumul Quran: Studi Kompleksitas Al-Qur’a.  Yogyakarta: Titian Ilahi
Visandispa. Ilmu Makkiyah dan Madaniyah. Blogspot (online), 2011


[1] Abdul Djalal, Ulumul Quran (Surabaya: Dunia Ilmu, 2009), 77-78.
[2] Rosihon Anwar, ULUM AL-QURAN (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2008), 102.
[3]Visandispa, “Ilmu Makkiyah dan Madaniyah”,  Blogspot on line
http://yisandispa.blogspot.com/2011/09/ilmu-makkiyah-madaniyah.html, 22 September 2011, diakses tanggal 23 Oktober 2011.
[4] Ibid, 104-106
[5] Abdul Djalal, Ulumul Quran (Surabaya: Dunia Ilmu, 2009), 89-98.
[6] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran ( Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), 106-108.
[7] Ibid, 111-114.
[8] Fahd Bin Abdurrahman, Ulumul Quran: Studi Kompleksitas Al-Qur’an ( Yogyakarta: Titian Ilahi, 1999), 166-167.
[9] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Imu, 2008), 99-100.
[10] Ibid, 176-177.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar